Pembaca yang budiman,

Hari ulang tahun Jakarta, yang kemeriahannya mengisi setiap bulan Juni dan Juli, tahun ini dilengkapi dengan panasnya pemilihan Gubernur Provinsi DKI Jakarta pada 11 Juli 2012. Siapa, ya, yang akan terpilih?

Mengatasi banjir sampai korupsi diteriakkan oleh semua kandidat, tetapi tak satu pun yang meneriakkan janji perhatian pada masalah kebudayaan. Padahal, mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin sering mengingatkan, “Kalau ingin menjadi gubernur yang baik di Jakarta, masalah kebudayaan harus diurus.”

Alasannya sederhana sekali. Jakarta, sebagai kota yang menjadi titik temu berbagai suku bangsa di Nusantara ini dan juga kota yang menjadi cermin peradaban negara, semestinya memiliki wajah yang humanis dan beradab.

Bang Ali mewujudkan misi kebudayaannya, antara lain, dengan membangun gelanggang-gelanggang remaja di lima wilayah Jakarta. Ia juga membangun Kebun Binatang Cikini menjadi Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Taman Impian Jaya Ancol lengkap dengan Pasar Seninya. Prof. Dr. Yasmine Zaki Shahab, peneliti kebudayaan Betawi, pun mengakui bahwa pada masa kepemimpinan Bang Ali-lah Betawi dibangun kembali (Rubrik GONG).

Tentu tidak ada maksud kami mengultuskan seorang tokoh. Tulisan ini dirancang berlatar belakang menyuarakan kerinduan masyarakat akan pemimpin yang peka kebudayaan, khususnya di Ibu Kota. Bukan yang mengagungkan pembangunan mal dan gedung pencakar langit tanpa menghiraukan keberadaan ruang publik dan ruang terbuka hijau.

Pembaca Warisan Indonesia. Sajian menarik lain pada edisi ini adalah wawancara khusus dengan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI yang juga pelukis, Dr. Daoed Joesoef.

Jangan lewatkan pula liputan-liputan menarik dari dunia budaya tradisi, antara lain tentang songket Minang yang dihidupkan kembali setelah lama nyaris tak dikenal, padahal motifnya mengandung filosofi hidup masyarakat Minang (Tekstil), kesenian didong khas Aceh yang tidak mengenal musik, hanya mengandalkan tepuk tangan dan tepuk bantal (Sastra). Juga cerita di balik nama jalan-jalan tua di Jakarta, seperti Jalan Haji Nawi dan Jalan Haji Jiung (Legenda).

Oh ya, kami juga ingin menyampaikan kabar gembira, artikel berjudul “Bahasa yang Mesti Diselamatkan” di edisi 16 Vol.1 yang ditulis salah seorang anggota dewan redaksi, Donny Iswandono, beroleh pujian dewan juri dalam Festival Jailolo, belum lama ini.

Bukan itu saja, redaktur foto kami, Hardy Mendröfa, juga mendapatkan beasiswa untuk memperdalam fotografi di Universitas Ateneo, Filipina. Dan, dia merupakan satu-satunya wakil Indonesia yang diundang untuk tahun ajaran kali ini. Tentu saja, tugas belajar awak redaksi kami ini demi mengasah profesionalisme yang pada gilirannya akan memberikan perbaikan materi penyajian majalah ini.

Selamat membaca.

Salam hangat,
Rita Sri Hastuti/Pemimpin Redaksi

Kantor Warisan Indonesia & Alamat Redaksi:
Taman Permata Cikunir
Blok A9 No.15
Jakamulya
Bekasi Selatan 17146Telp: (021)- 84 999 560, 84 999 561
Fax. : (021) 8497 8837
email : redaksi@warisanindonesia.com
www.warisanindonesia.com