Pembaca yang budiman,

Ketika seorang teman baru saja kembali dari berlibur bersama keluarganya di Tana Toraja, saya tanya, apa yang menurut dia menarik di sana? Dengan mengerutkan kening, dia menjawab, “Kalau tujuan perjalanan kita adalah mencari sesuatu yang unik, memang Toraja tempatnya. Tapi, kalau tujuannya untuk berpesiar, jalan-jalan, bukan Toraja tempatnya.”

Sementara ketika staf redaksi kami bertemu dengan Helen Marshall, seorang fotografer asal Inggris, yang Januari lalu berpameran di Jakarta, kami mendapatkan jawaban yang berbeda. Ia merasa mendapatkan semangat baru karena merasa mendapatkan makna baru dari sebuah kematian.

Di Toraja, kematian merupakan sesuatu yang “istimewa”. Anak dan cucu merasa berdosa apabila belum memakamkan orangtua atau leluhur mereka dengan segala kekhususan—termasuk dalam hal biaya yang bisa mencapai miliaran rupiah—untuk penyelenggaraan upacara kematian yang dikenal sebagai rambu solo’. Bahkan, upacara tersebut, yang semula hanya diselenggarakan oleh keluarga bangsawan, kini juga diselenggarakan oleh “orang biasa” yang kebetulan sukses di rantau.

Ini suatu yang menarik karena ternyata para perantau yang sukses itu tak segan-segan pulang kampung untuk “berlomba” mengadakan upacara mewah untuk sang leluhur—bahkan tak segan-segan pula mengundang tokoh nasional dari Jakarta.

Itu sebabnya untuk edisi ini kami khusus mengirim staf redaksi Warisan Indonesia Viesta Karwila Wingtyas dan Redaktur Foto Hardy Mendröfa ke Tana Toraja untuk meliput suasana upacara rambu solo’ yang berlangsung pada 24 Desember 2011-3 Januari 2012. Upacara ini berhasil menarik ribuan wisatawan. Laporan panjangnya dapat Anda baca di rubrik GONG, Kearifan Lokal, Situs, Tekstil, Kuliner, Tari, dan Zoom.

Liputan-liputan yang tak kalah menarik, antara lain, adalah tentang Seren Taun (Upacara Adat), persembahan masyarakat adat Sunda Wiwitan kepada Dewi Sri, tentang naskah-naskah Melayu kuno dari Kesultanan Sambas, Kalimantan Barat, yang kebanyakan sudah berpindah tangan ke Malaysia (Sastra).

Jangan lewatkan pula tentang fafiri—bumerang dari Nias (Permainan Tradisional), Wawancara khusus dengan Prof. Dr. F.G. Winarno tentang pangan tradisional (Wawancara), dan Rahayu Supanggah yang gigih menduniakan gamelan Indonesia (Tokoh).

Terakhir, terbetik kabar menggembirakan pada awal Februari ini, salah seorang anggota Dewan Redaksi kami, Yusuf Susilo Hartono mendapatkan anugerah sastra, Rancage, untuk kumpulan puisinya dalam bahasa Jawa Ombak Wengi. Rancage adalah anugerah sastra bagi sastrawan yang menulis dalam bahasa daerah: Sunda, Jawa, dan Bali. Tentu anugerah ini menjadi pemicu bagi kami untuk memberikan yang terbaik kepada sidang pembaca.

Salam hangat dari kami.
Rita Sri Hastuti/Pemimpin Redaksi

Kantor Warisan Indonesia & Alamat Redaksi:
Taman Permata Cikunir
Blok A9 No.15
Jakamulya
Bekasi Selatan 17146Telp: (021)- 84 999 560, 84 999 561
Fax. : (021) 8497 8837
email : redaksi@warisanindonesia.com 

www.warisanindonesia.com

 

Klik disini, untuk pemesanan.