Pembaca yang budiman,
Selamat Tahun Baru 2012, semoga tahun ini merupakan tahun yang membawa berkah.
Dalam rangka menyambut tahun 2012, Warisan Indonesia pada edisi ini tampil secara khusus. Dalam judul besar “Harapan Baru Budaya Indonesia” menghadirkan pendapat kritis dan evaluatif dari para pengamat budaya tentang situasi kultural Indonesia dari perspektif keilmuan masing-masing.
Selama ini, pembaca mengenal Warisan Indonesia sebagai majalah yang berkiprah dalam budaya berbasis tradisi. Namun, kami berpendapat bahwa memahami budaya tradisi tidak berarti hanya menengok ke belakang, tetapi justru bisa lebih luas memandang ke depan. Apalagi, kebudayaan adalah elemen strategis untuk perubahan dan transformasi sosial masyarakat.
Kebudayaan harus dilihat sebagai motor penggerak kehidupan sosial masyarakat untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Kebudayaan bersifat dinamis dan selalu dalam keadaan membentuk dirinya secara kontekstual sesuai dengan semangat zaman.
Tantangan terbesar bagi gerak kebudayaan di Indonesia adalah percepatan modernisasinya sendiri. Modernisasi yang seharusnya membawa transformasi sosial ke arah kehidupan bermasyarakat yang semakin bermartabat, manusiawi, dan bebas dari penindasan justru telah berubah menjadi mesin pembangunan yang mencabut manusia dari akar kebudayaannya sendiri.
Edisi khusus ini memuat pendapat para ahli yang bergerak dalam lapangan kebudayaan, seperti praktisi budaya, peneliti, kritikus seni, pembuat film, dan seniman. Mereka diharapkan dapat menawarkan ruang kritis untuk dialog kebudayaan serta membahas bukan saja perkembangan kebudayaan yang terjadi selama setahun terakhir, melainkan juga kebuntuan dan ancaman kultural yang sedang kita hadapi.
Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih kepada para penulis yang telah secara khusus meluangkan waktu untuk mengisi Warisan Indonesia edisi khusus ini, yaitu Afrizal Malna, Aminuddin TH Siregar, Farah Wardani, Halim HD, Hilmar Farid, Ignatius Haryanto, Yudi Latif, Zen Hae, dan Seno Gumira Ajidarma.
Namun, kami tetap menyajikan beberapa halaman yang menjadi favorit Anda. Putu Wijaya tetap menulis di edisi ini, kali ini mengangkat tentang seni dan budaya, aset penting pada era global, tetapi tak pernah mendapat perhatian dari penguasa (rubrik Suluk).
Seni dan budaya memang tak pernah mati meski tak dimanjakan oleh pemerintah, tetapi kami yakin dukungan dari Anda jauh lebih penting.
Salam hangat dari kami.
Rita Sri Hastuti/Pemimpin Redaksi
Taman Permata Cikunir
Blok A9 No.15
Jakamulya
Bekasi Selatan 17146Telp: (021)- 84 999 560, 84 999 561
Fax. : (021) 8497 8837
email : redaksi@warisanindonesia.com
www.warisanindonesia.com











