<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majalah Warisan Indonesia &#187; Tokoh</title>
	<atom:link href="http://warisanindonesia.com/category/tokoh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://warisanindonesia.com</link>
	<description>Bacaan Populer Seni dan Budaya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 28 Jun 2012 10:56:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Pak Raden Menunggu Si Unyil</title>
		<link>http://warisanindonesia.com/2012/06/pak-raden-menunggu-si-unyil/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=pak-raden-menunggu-si-unyil</link>
		<comments>http://warisanindonesia.com/2012/06/pak-raden-menunggu-si-unyil/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jun 2012 08:27:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[pak raden]]></category>
		<category><![CDATA[si unyil]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[unyil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warisanindonesia.com/?p=5689</guid>
		<description><![CDATA[Drs Suyadi, yang lebih dikenal dengan Pak Raden, nyaris terlupakan. Kreator serial [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<fb:like href='http://warisanindonesia.com/2012/06/pak-raden-menunggu-si-unyil/' send='false' layout='standard' show_faces='true' width='450' height='65' action='like' colorscheme='light' font='lucida+grande'></fb:like><div id="attachment_5691" class="wp-caption alignnone" style="width: 630px"><a href="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/pak-raden.jpg" rel="lightbox[5689]" title="pak-raden"><img class="size-full wp-image-5691" title="pak-raden" src="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/06/pak-raden.jpg" alt="" width="620" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Warisan Indonesia/Ibnu Setiadi</p></div>
<p><strong>Drs Suyadi, yang lebih dikenal dengan Pak Raden, nyaris terlupakan. Kreator serial boneka Si Unyil ini tengah berjuang untuk mendapatkan kembali hak cipta Unyil yang selama ini entah ke mana.</strong></p>
<p>Dari balik jendela tampak Suyadi tengah asyik melukis sendirian di ruang berukuran 2 meter x 4 meter. Mengenakan baju batik, celana pendek, ia duduk di bangku kayu menghadap kanvas yang nyaris selesai itu. Di ruang sempit dan pengap itulah sehari-hari ia menggores dan menghabiskan waktunya, kecuali ada yang nanggap untuk mendongeng.</p>
<p>Laki-laki yang pada tahun ini menginjak usia 77 tahun sudah sering sakit-sakitan terutama encok. “Kalau dulu Pak Raden akting, ‘waduh biyung encokku kumat’, sekarang beneran. Selain encok, yang sakit kantongnya,” ujar Suyadi yang hidup menumpang di rumah kakaknya, di Jalan Petamburan, Jakarta Pusat.</p>
<p>Namun, ia tetap bersemangat menjalani pekerjaannya mendongeng, ilustrator buku, dan melukis, meskipun secara ekonomis belum mampu mencukupi kebutuhannya sehari-harinya. Sebagai pendongeng, Suyadi punya ciri khas mendongeng dan menggambar.</p>
<p>Pekerjaan mendongeng berawal sejak ia berperan sebagai Pak Raden di dalam “Si Unyil” yang diceritakan suka mendongeng sehingga banyak yang mengira Suyadi sebagai Pak Raden memang pendongeng. “Kalau manggil saya itu untuk mendongeng. Jadi lama-lama, ya, mau tidak mau,” ujar Suyadi.</p>
<p><strong>Galau &#8220;Si Unyil&#8221;</strong><br />
Kreator film “Si Unyil” sejak 1979 ini sedang galau karena hak cipta “Si Unyil” malah tidak berada di dalam genggamannya. “Ada persoalan hak cipta ‘Si Unyil’. Saya ingin dikembalikan kepada saya. Maka itu saya harus menghubungi lembaga Hak Atas Karya Intelektual (HAKI). Tapi baru mendaftar, sudah ditarik sekian juta. Nanti untuk pengacaranya juga harus ada lebih dananya,” tutur Suyadi.</p>
<p>Itu sebabnya, pada pertengahan April 2012, sejumlah anak muda seperti Prasodjo Chusnato (penulis biografi Pak Raden) bersama temantemannya, mengadakan penggalangan dana. Selain untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari Suyadi, juga untuk mengurus hak cipta Si Unyil.</p>
<p>Seniman multibakat yang telah malang melintang di dunia hiburan Tanah Air ini sangat mengharapkan agar pemerintah dan masyarakat lebih menghargai seniman-senimannya. (WI/Bambang Triyono)</p>
<p><a href="http://warisanindonesia.com/warisan/warisan-indonesia-vol-02-no-18/"><strong><em>&#8212; Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.18 &#8212;</em></strong></a><!-- PHP 5.x --></p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://warisanindonesia.com/2012/06/pak-raden-menunggu-si-unyil/' addthis:title='Pak Raden Menunggu Si Unyil '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warisanindonesia.com/2012/06/pak-raden-menunggu-si-unyil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prof. DR. Mundardjito: Arkeolog Bukan Penghambat Pembangunan</title>
		<link>http://warisanindonesia.com/2012/05/prof-dr-mundardjito-arkeolog-bukan-penghambat-pembangunan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=prof-dr-mundardjito-arkeolog-bukan-penghambat-pembangunan</link>
		<comments>http://warisanindonesia.com/2012/05/prof-dr-mundardjito-arkeolog-bukan-penghambat-pembangunan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 May 2012 04:17:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[arkeolog]]></category>
		<category><![CDATA[arkeologi]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[mundardjito]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warisanindonesia.com/?p=5585</guid>
		<description><![CDATA[Perkembangan ilmu pengetahuan membuat pekerjaan arkeolog ternyata amat luas. Semula hanya soal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<fb:like href='http://warisanindonesia.com/2012/05/prof-dr-mundardjito-arkeolog-bukan-penghambat-pembangunan/' send='false' layout='standard' show_faces='true' width='450' height='65' action='like' colorscheme='light' font='lucida+grande'></fb:like><div id="attachment_5586" class="wp-caption alignnone" style="width: 630px"><a href="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/05/prof-mundardjito.jpg" rel="lightbox[5585]" title="prof-mundardjito"><img class="size-full wp-image-5586" title="prof-mundardjito" src="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/05/prof-mundardjito.jpg" alt="" width="620" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Warisan Indonesia/Ibnu Setiadi</p></div>
<p>Perkembangan ilmu pengetahuan membuat pekerjaan arkeolog ternyata amat luas. Semula hanya soal benda, lalu menyoal struktur, bangunan atau situs lalu kawasan. Dalam mengkaji benda pun limbah yang timbul dalam proses pembuatannya perlu dikaji. Kebiasaan memandang benda ada di satu posisi sejak awal dan tak bergerak ke mana-mana perlu ditinggal.</p>
<p>Perkembangan ilmu pengetahuan mengajarkan kemungkinan benda bergerak dari tempatnya semula. Ini amat penting untuk Indonesia yang kerap dilanda bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, dan tsunami. Soal transformasi menjadi persoalan penting dalam arkeologi.</p>
<p>Untuk memahami peran arkeolog dalam masyarakat, Warisan Indonesia menugaskan Bambang Triyono menemui Prof. Dr. Mundardjito. Berikut petikan perbincangan yang berlangsung di kediaman guru besar arkeologi di Kompleks Dosen Universitas Indonesia, Rawamangun Muka, Jakarta Timur, pertengahan April 2012.</p>
<p>Pria kelahiran Bogor, 6 Oktober 1936, ini menekuni ilmu kepurbakalaan sejak 1956. Ia merasa ilmu itu belum utuh lantaran lebih berorientasi pada perburuan artefak saja. Padahal, ia yakin, tanpa teori dan metode, arkeologi bukan ilmu.</p>
<p>Sebagai arkeolog, Mundardjito aktif mengikuti seminar dan pengkajian situs-situs besar. Keahliannya bertambah dengan pengalamannya ikut serta dalam sejumlah penelitian di Yunani dan Asia Tenggara. Berikut petikan pembicaraan itu.</p>
<p><strong>Kajian arkeologi tampaknya punya cakupan yang luas, tak cuma sebatas candi atau benda-benda yang dipajang di museum. Saat melihat artefak, misalnya, arkeolog mempersoalkan, bagaimana sistem yang mewadahinya bekerja untuk menghasilkan benda itu, bahkan termasuk limbah yang ditinggalkan.</strong><br />
Limbah itu penting karena merupakan indikasi yang membimbing kita untuk mengetahui kejadian apa yang terjadi di situ. Lebih bagus lagi kalau di situ juga tungku api, arang, dan ruang kerja, misalnya, untuk membuat gamelan. Dengan begitu, kalau kita menempatkan gamelan lengkap dengan alat-alat pembuatan, ruang kerja serta limbahnya, pemahaman pengunjung museum akan menjadi lebih kuat.</p>
<p>Tugas arkeolog adalah memberikan penjelasan. Saat petugas museum akan membeli barang, katakanlah keramik, ia tak bisa semata-mata membeli lalu menyimpan dan memajangnya. Apa yang diperlukan adalah penjelasan soal benda itu. Kapan dan di mana benda itu ditemukan. Bila dikatakan berasal dari Sulawesi Selatan, kita perlu mengejar desa apa dan berapa koordinatnya. Lokasi atau situs itu amat penting. Bila perlu kita melakukan penggalian di situs itu untuk mengetahui ada apa lagi di situ.</p>
<p>Penggalian itu mungkin akan menghasilkan temuan baru hingga kita bisa berpikir bahwa situs itu, misalnya, bakal kuburan atau sekadar permukiman biasa. Mungkin saja dari tempat itu ada sebuah candi yang merupakan tempat upacara sehingga kuncinya lebih dari sekadar benda itu saja. Namun, konteks di luar itu yang ada hubungannya.</p>
<p>Tidaklah tepat bila sekadar orientasinya selalu untuk artefak, atau hanya pada benda saja. Sekarang orang berpikir site oriented sehingga sebuah benda perlu dilihat ada di ruang situs seperti apa. Hubungan benda di dalam situs menjadi penting.</p>
<p><strong>Mengapa arkeolog kini berpikir transformasi?</strong><br />
Lihat misalnya Candi Sali di Jawa Tengah yang pernah tertutup sekitar 6-8 meter pasir Gunung Merapi.</p>
<p>Kompleks candi memiliki 3 bangunan dan ditambah sebuah lagi di tengah, sedangkan sekelilingnya ada pagar. Seratus meter di sebelah kiri candi mengalir Kali Kuning yang berasal dari wilayah kawah vulkanik Merapi. Hal itu berarti ada pasir yang terbawa arus lahar dingin.</p>
<p>Ada pula kemungkinan batu besar menggelinding dan menerjang pagar. Karena ada transformasi pergerakan, arkeolog tak bisa melihat sesuatu insitu, atau sesuatu ada di situ tempatnya. Gelombang tsunami kerap menggeser kapal-kapal hingga kemudian terkubur. Arkeolog tidak bisa mengatakan bahwa dahulu di lokasi kapal itu terletak garis pantai. Ia mesti melihat kemungkinan adanya arus sungai di situ, fosil kerang, serta deposit pasir dari pantai. (WI/ Bambang Triyono)</p>
<p><a href="http://warisanindonesia.com/warisan/warisan-indonesia-vol-02-no-17/"><strong><em>&#8212; Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.17 &#8212;</em></strong></a><!-- PHP 5.x --></p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://warisanindonesia.com/2012/05/prof-dr-mundardjito-arkeolog-bukan-penghambat-pembangunan/' addthis:title='Prof. DR. Mundardjito: Arkeolog Bukan Penghambat Pembangunan '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warisanindonesia.com/2012/05/prof-dr-mundardjito-arkeolog-bukan-penghambat-pembangunan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Citra Smara Dewi, Dekan dengan Pencitraan Baru</title>
		<link>http://warisanindonesia.com/2012/05/citra-smara-dewi-dekan-dengan-pencitraan-baru/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=citra-smara-dewi-dekan-dengan-pencitraan-baru</link>
		<comments>http://warisanindonesia.com/2012/05/citra-smara-dewi-dekan-dengan-pencitraan-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 May 2012 06:43:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[citra-smara-dewi]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warisanindonesia.com/?p=5539</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah gebyar tamatan Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menjadi seniman, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<fb:like href='http://warisanindonesia.com/2012/05/citra-smara-dewi-dekan-dengan-pencitraan-baru/' send='false' layout='standard' show_faces='true' width='450' height='65' action='like' colorscheme='light' font='lucida+grande'></fb:like><div id="attachment_5540" class="wp-caption alignnone" style="width: 630px"><a href="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/05/citra-smara-dewi.jpg" rel="lightbox[5539]" title="citra-smara-dewi"><img class="size-full wp-image-5540" title="citra-smara-dewi" src="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/05/citra-smara-dewi.jpg" alt="" width="620" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Warisan Indonesia/Ibnu Setiadi</p></div>
<p><strong>Di tengah gebyar tamatan Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menjadi seniman, Citra Smara Dewi justru memutuskan menjadi pendidik. Meskipun sejak kecil bercita-cita menjadi seniman, saat sedang laris sebagai konsultan interior, ia menerima tugas sebagai Dekan Fakultas Seni Rupa (FSR) IKJ.</strong></p>
<p>Citra Smara Dewi seakan mengingatkan, dalam medan seni rupa, selain galeri, kolektor, dan perupa, unsur perguruan tinggi tak boleh dikecilkan. Kelahiran Jakarta, 29 Oktober 1968, ini yakin betul bahwa pendidiklah yang melahirkan seniman. Berdasarkan pemikiran itulah yang pertama kali dilakukannya adalah memperbaiki citra IKJ yang cukup lama terkesan sebagai tempat pengedaran narkoba, yang terjadi di warung atau bangunan serambi kampusnya. Kini, Citra yang menamatkan S-1 di FSR IKJ Program Studi Desain Interior tahun 1998 ini sudah berani meyakinkan para orangtua calon mahasiwa bahwa kampus tersebut sudah bersih dari narkoba. Dengan tegas ia mengatakan, mahasiswa yang kedapatan memakai obat terlarang sudah ditindak.</p>
<p>Tahun ini, dekan termuda di IKJ ini telah mengembalikan enam mahasiswanya langsung kepada orangtua masingmasing. “Setelah anak Bapak-Ibu bebas narkoba, silakan kembali ke kampus,” ujar Citra Smara Dewi, yang biasa disapa Mbak Citra ini, kepada orangtua para mahasiswa itu.</p>
<p>Ketegasan itu sepertinya sudah lama ditunggu-tunggu. Di tengah kesadaran bahwa ada juga yang menentang kebijakannya, Citra tetap menyosialisasikan “Bebas Narkoba” di kampusnya. Setelah dua tahun sosialisasi, barulah ada proses drop out. Beruntunglah dia, Senat Mahasiswa FSR IKJ mendukung karena dengan demikian mereka lebih mudah menyisir para mahasiswa.</p>
<p><strong>Menampung Aspirasi</strong><br />
Lulusan S-2 Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia (UI) Jurusan Ilmu Komunikasi ini—yang saat terpilih sebagai Dekan FSR IKJ belum genap 38 tahun—berusaha menampung aspirasi dalam penggodokan konsep kebijakannya. Ia tidak segan mengakomodasi 600 mahasiswa, 120 dosen, dan 40 karyawan dengan mengutamakan musyawarah melalui forum dosen sampai mahasiswa. Ia tidak ingin memihak satu generasi atau satu golongan saja.</p>
<p>Citra, yang di IKJ mulai dengan meraih gelar diploma (1994) ini, mengerti betul kultur kerja dan bergaul di IKJ. Dia bersedia mendengarkan saran dan kritik dari golongan tua dan kaum muda, menurut dia, sebagai penghargaannya atas amanah yang telah diterima. Bahkan, sebagai dekan, Citra masih sesekali memberikan konseling kepada mahasiswa yang mendapat nilai kecil, memiliki kasus yang fatal, atau diduga terlibat jaringan narkoba.</p>
<p>Cara itu, selain ia lakukan saat mengambil kebijakan menghapus narkoba di kampusnya, juga saat menggebrak dengan mengharuskan dosen menulis.</p>
<p>“Saya mencoba membangun kultur meneliti dan menulis di kalangan pengajar. Mereka tidak diragukan lagi dalam berkarya, tetapi ketika harus menulis untuk buku, selama ini saya belum melihat,” ujarnya. (WI/ Viesta Karwila)</p>
<p><a href="http://warisanindonesia.com/warisan/warisan-indonesia-vol-02-no-17/"><strong><em>&#8212; Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.17 &#8212;</em></strong></a><!-- PHP 5.x --></p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://warisanindonesia.com/2012/05/citra-smara-dewi-dekan-dengan-pencitraan-baru/' addthis:title='Citra Smara Dewi, Dekan dengan Pencitraan Baru '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warisanindonesia.com/2012/05/citra-smara-dewi-dekan-dengan-pencitraan-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ki Seno, Dalang Muda dari Sewon</title>
		<link>http://warisanindonesia.com/2012/05/ki-seno-dalang-muda-dari-sewon/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=ki-seno-dalang-muda-dari-sewon</link>
		<comments>http://warisanindonesia.com/2012/05/ki-seno-dalang-muda-dari-sewon/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 May 2012 05:07:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[dalang]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[ki-seno]]></category>
		<category><![CDATA[profil]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warisanindonesia.com/?p=5464</guid>
		<description><![CDATA[Saat Ki Timbul Hadiprayitno, satu-satunya dalang pakeliran gagrag Yogyakarta berpulang, akhir tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<fb:like href='http://warisanindonesia.com/2012/05/ki-seno-dalang-muda-dari-sewon/' send='false' layout='standard' show_faces='true' width='450' height='65' action='like' colorscheme='light' font='lucida+grande'></fb:like><div id="attachment_5465" class="wp-caption alignnone" style="width: 630px"><a href="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/05/ki-seno.jpg" rel="lightbox[5464]" title="ki-seno"><img class="size-full wp-image-5465" title="ki-seno" src="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/05/ki-seno.jpg" alt="" width="620" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Singgir Kartana</p></div>
<p><strong>Saat Ki Timbul Hadiprayitno, satu-satunya dalang pakeliran gagrag Yogyakarta berpulang, akhir tahun lalu, publik gelisah karena tidak ada lagi dalang gagrag Yogyakarta. Kini muncul Ki Seno Nugroho (39), yang “laris manis” menghangatkan jagat pakeliran di kota pusar budaya Jawa itu.</strong></p>
<p>Setiap orang memiliki momentum kejayaan. Namun, tidak semua mampu mengambilnya. Demikian ungkapan William Rocksdale dalam bukunya Gain the Moment. Dalam buku tersebut dijelaskan kejayaan seseorang sangat ditentukan oleh bagaimana melakukan proses pemaduan talenta dengan momentum yang tepat.</p>
<p>Meskipun belum pernah membaca buku William Rocksdale itu, boleh jadi apa yang dilakukan Seno Nugroho “sebangun” dengan ungkapan di atas. Meraih momentum keberhasilan; mengembangkan talenta dan menyuguhkan pada saat yang tepat, sehingga namanya mencuat di dunia pedalangan. Kini, pada usia yang relatif muda eksistensinya sebagai dalang nyaris sejajar dengan para seniornya.</p>
<p>Hampir sebagian warga masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah boleh jadi menunjuk nama Seno Nugroho jika ditanya, siapa dalang yang tengah naik daun. Betapa tidak, selain laris pentas, dalang muda yang satu ini juga kuat jalur relasi publiknya. Hal itu, antara lain, terbukti beberapa kali ia manggung ke luar negeri.</p>
<p>Anak keempat dari lima bersaudara ini lahir di Yogyakarta pada 23 Agustus 1972. Darah seninya menurun dari bapak dan juga sang kakek. Sang kakek, Ki Bancak, merupakan dalang yang cukup dikenal pada era 1960-an. Sedangkan ayahnya, Ki Suparman, juga dalang kondang pada era 1970 hingga 1990-an.</p>
<p>Lantaran berasal dari keluarga dalang, sejak dini dirinya mengenal dunia pedalangan. Namun, baru pada usia sepuluh tahun, dia mulai tertarik mendalang. Ketertarikan itu kian terpupuk seringnya ia mengikuti ayahnya mendalang. Saat menginjak usia remaja, dia mulai mengagumi Ki Manteb Sudharsono. Bahkan, hingga kini kekaguman itu belum pupus.</p>
<p>Tak puas dengan ilmu yang diperoleh dari keluarga, selepas sekolah menengah pertama (SMP), Seno memutuskan untuk melanjutkan ke Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI) Yogyakarta. Lulus dari sekolah itu pada 1991. Dari sinilah ilmu pedalangan yang didapatkannya semakin luas, yang akhirnya membentuknya menjadi dalang profesional.</p>
<p>“Saya pertama kali mendalang secara profesional di RRI Yogyakarta. Kalau enggak salah tahun 1990. Saya waktu itu dibayar Rp 200.000,” kenang bapak dari dua anak itu saat ditemui di kediamannya Jalan KH Ali Maksum No. 265, Sewon, Bantul, Yogyakarta. (Singgir Kartana)</p>
<p><a href="http://warisanindonesia.com/warisan/warisan-indonesia-vol-02-no-17/"><strong><em>&#8212; Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.17 &#8212;</em></strong></a><!-- PHP 5.x --></p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://warisanindonesia.com/2012/05/ki-seno-dalang-muda-dari-sewon/' addthis:title='Ki Seno, Dalang Muda dari Sewon '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warisanindonesia.com/2012/05/ki-seno-dalang-muda-dari-sewon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayu Utami, Si Bungsu Pemberani</title>
		<link>http://warisanindonesia.com/2012/04/ayu-utami-si-bungsu-pemberani/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=ayu-utami-si-bungsu-pemberani</link>
		<comments>http://warisanindonesia.com/2012/04/ayu-utami-si-bungsu-pemberani/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 06:57:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[ayu-utami]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[panjat-tebing]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warisanindonesia.com/?p=5396</guid>
		<description><![CDATA[“Seni itu sebuah usaha mencarikan bentuk estetik bagi kejujuran”. BEGITULAH novelis Ayu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<fb:like href='http://warisanindonesia.com/2012/04/ayu-utami-si-bungsu-pemberani/' send='false' layout='standard' show_faces='true' width='450' height='65' action='like' colorscheme='light' font='lucida+grande'></fb:like><div id="attachment_5397" class="wp-caption alignnone" style="width: 630px"><a href="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/04/ayu-utami.jpg" rel="lightbox[5396]" title="ayu-utami"><img class="size-full wp-image-5397" title="ayu-utami" src="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/04/ayu-utami.jpg" alt="" width="620" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Warisan Indonesia/ Ibnu Setiadi</p></div>
<p><strong>“Seni itu sebuah usaha mencarikan bentuk estetik bagi kejujuran”.</strong></p>
<p>BEGITULAH novelis Ayu Utami (44) merumuskan pengertian seni. Cita-cita menjadi seniman, yang sempat diinterupsi keluarganya dengan melarang dia mendaftar di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB Bandung, kini sudah dalam genggamannya. Meski tidak menjadi pelukis seperti cita-cita semula, kini Ayu menjadi novelis yang pencapaian estetis dan teknik komposisinya sangat mungkin tidak bisa terkejar penulis lain segenerasinya.</p>
<p>Di tengah maraknya “sastra motivasi” yang akhir-akhir ini mewabah, pemilik nama lengkap Justina Ayu Utami ini konsisten menyajikan karya yang berdimensi sejarah, politik, antropologi sosial, spiritualitas, dan tentu seksualitas dengan penuh kejujuran dan daya kritis yang mengentak. Meskipun dia harus ”membayar mahal” atas pilihannya ini. Dia sempat dicibir dan dianggap penebar “sastra-perkelaminan” ketika Saman novel pertamanya yang menjadi pemenang Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 1998 mengguncang dunia sastra negeri ini.</p>
<p>Seni merangkaikan kata-kata menjadi kekuatan deretan penulis novel nonfiksi Indonesia era 1990-an. Namun, Ayu-lah yang disebut-sebut sebagai pembawa angin segar ‘keberanian’. Urusan diterima khalayak atau tidak, dia tidak terlalu memikirkan. Memang, sejak diterbitkannya novel Saman dan Larung (2001) dengan sudut pandang “aku” yang berganti di tiap bab, nama Ayu Utami lahir sebagai novelis pembawa kebebasan sastra. Kedua novelnya yang dianggap memperluas batas cakrawala sastra Indonesia ini diganjar anugerah Prince Claus Award (2000) dan penghargaan Majelis Sastra Asia Tenggara (2008).</p>
<p>Banyak kontroversi terhadap kedua novelnya tersebut. Terbilang berani dan vulgar dalam menggunakan katakata dan gambaran seksualitas. Bahkan, sang penulis pun mengakui bahwa sekuel pertamanya itu memandang seksualitas sebagai persoalan, tetapi bukanlah yang utama. Sebagian kritik yang dilontarkan sastrawan senior tidak melihat masalah utama yang hendak Ayu sampaikan dalam Saman.</p>
<p>Tekanan politik pada era Orde Baru serta kedudukan agama dan spiritualitas menjadi pesan utama Saman. Kilasan seksualitas yang ditampilkan hanya sebuah cara Ayu mengungkap realitas di masyarakat Indonesia. Ayu yang mengaku sebagai penganut “spiritualisme kritis” ini memfokuskan gaya hidup sebagian perempuan Indonesia modern, dalam karyanya itu. Alumnus jurusan Sastra Rusia Universitas Indonesia (UI) ini mengaku paham betul segmentasi pembaca yang dituju dalam setiap novelnya. (WI/Viesta Karwila)</p>
<p><a href="http://warisanindonesia.com/warisan/warisan-indonesia-vol-02-no-16/"><strong><em>&#8212; Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.16 &#8212;</em></strong></a><!-- PHP 5.x --></p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://warisanindonesia.com/2012/04/ayu-utami-si-bungsu-pemberani/' addthis:title='Ayu Utami, Si Bungsu Pemberani '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warisanindonesia.com/2012/04/ayu-utami-si-bungsu-pemberani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Titik Balik Happy Salma</title>
		<link>http://warisanindonesia.com/2012/04/titik-balik-happy-salma/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=titik-balik-happy-salma</link>
		<comments>http://warisanindonesia.com/2012/04/titik-balik-happy-salma/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 06:54:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[happy-salma]]></category>
		<category><![CDATA[profil]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warisanindonesia.com/?p=5342</guid>
		<description><![CDATA[MENGAWALI karier sebagai gadis sampul majalah remaja pertengahan tahun 1990-an, Happy Salma [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<fb:like href='http://warisanindonesia.com/2012/04/titik-balik-happy-salma/' send='false' layout='standard' show_faces='true' width='450' height='65' action='like' colorscheme='light' font='lucida+grande'></fb:like><div id="attachment_5343" class="wp-caption alignnone" style="width: 630px"><a href="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/04/happy-salma.jpg" rel="lightbox[5342]" title="happy-salma"><img class="size-full wp-image-5343" title="happy-salma" src="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/04/happy-salma.jpg" alt="" width="620" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Warisan Indonesia/Hardy Mendrofa</p></div>
<p><strong>MENGAWALI karier sebagai gadis sampul majalah remaja pertengahan tahun 1990-an, Happy Salma kini menjelma menjadi pekerja seni yang patut diperhitungkan. Dunia kepenulisan dan panggung dia taklukkan sekaligus dalam satu helaan napas. Apa yang menjadi titik balik lompatan kariernya?</strong></p>
<p>“SAYA mengakui bahwa karya-karya besar sastra Indonesia banyak memengaruhi cara pandang saya. Bahkan, saya berani menggeluti dunia panggung teater juga karena kecintaan saya pada karya-karya besar tersebut,” begitu pengakuan pekerja seni berwajah ayu tersebut tanpa merinci karya-karya besar mana yang dia maksudkan.</p>
<p>Menjelang peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April ini, Happy Salma tengah disibukkan dengan berbagai rutinitas. Salah satunya, latihan pementasan “Roro Mendut”, yang akan dihelat pada 14 April 2012 lalu di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.</p>
<p>Happy Salma, kelahiran Sukabumi 14 Januari 1980 ini, mengaku sejak kecil sudah terbiasa menulis puisi, menari, hingga mengikuti cerdas-cermat. Happy adalah anak keempat dari enam bersaudara. Ayahnya bernama Dachlan Suhendara (almarhum), dan ibunya, Iis Rohaeni, seorang pengusaha mebel sekaligus kontraktor. Kini, Happy berstatus nyonya Tjokorda Dwi Santana Max Kerthyasa, seorang pengusaha asal “Pulau Dewata” Bali.</p>
<p>“Saat duduk di bangku sekolah dasar (SD), saya senang bikin cerita pendek (cerpen), suka bikin majalah sendiri buat adik saya dan anaknya bibi di rumah jadi pelanggannya,” kenangnya, saat ditemui di sela-sela latihan pementasan “Roro Mendut” di House Club, Apartemen Pavilliun, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, baru-baru ini.</p>
<p>Semasa sekolah menengah atas (SMA) dia suka kirimkirim cerpen, karya pertamanya dimuat di majalah remaja Aneka Yes untuk edisi Valentine. “Sebetulnya banyak, tetapi sudah lupa. Jadi, kalau saya mau introspeksi salah satunya membaca tulisan-tulisan saya, itu kayak identitas pribadi,” katanya.</p>
<p>Pada usia 15 tahun, tepatnya 1995, Happy pernah menjadi finalis wajah gadis sampul yang diselenggarakan oleh majalah Gadis, sebuah majalah yang waktu itu sedang digandrungi remaja-remaja seusianya. Namun, setelah dia terpilih sebagai finalis justru dia merasa tertekan karena, menurut dia, menjadi model itu bukan perkara mudah. Selain harus tampil cantik, juga harus pandai bergaya.</p>
<p>Sehingga dunia permodelan tidak dia tekuni. “Bingung mesti gimana waktu itu,” ujar Happy, perempuan yang sangat mengidolakan ibunya tersebut. Kendati begitu, sejak saat itu Happy mulai mengenal dunia hiburan. Perjalanannya dimulai ketika kakaknya mengenalkan dirinya dengan seorang personel band U Camp asal Bandung, Eri namanya. Pada usianya yang baru menginjak 17 tahun, Happy mulai masuk dunia rekaman.</p>
<p>Tak lama berselang, dia kenal Franky Sahilatua (almarhum) berkat Eri, personel band U Camp. Bersama Franky Sahilatua, dia pernah rekaman, tetapi sayang, album yang mereka bikin terbengkalai di tengah jalan karena ada masalah internal dengan pihak perusahaan rekaman.</p>
<p>Kemudian, berkat Franky Sahilatua juga Happy mendapat tawaran untuk bermain sinetron. Alhasil, di ujung tahun 1998, dia bermain sinetron berjudul Kupu-Kupu Ungu. Namun, setelah menjalani kehidupan sebagai seorang pemain sinetron, presenter, dan iklan yang telah digelutinya selama bertahun-tahun itu ternyata membuatnya merasa kesepian.</p>
<p>Pada awal 2006, Happy Salma sempat mengalami krisis dalam pencarian jati diri—ketika dunia selebritas ternyata membuat dia merasa sepi di tengah keramaian. Dia melarikan diri pada dunia sunyi, yakni dunia menulis—dunia yang digemarinya sejak kanak-kanak. (WI/Bambang Triyono)</p>
<p><a href="http://warisanindonesia.com/warisan/warisan-indonesia-vol-02-no-16/"><strong><em>&#8212; Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.16 &#8212;</em></strong></a><!-- PHP 5.x --></p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://warisanindonesia.com/2012/04/titik-balik-happy-salma/' addthis:title='Titik Balik Happy Salma '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warisanindonesia.com/2012/04/titik-balik-happy-salma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Slamet Abdul Sjukur: Hubungan gelap Debussy dengan Gamelan Jawa</title>
		<link>http://warisanindonesia.com/2012/04/slamet-abdul-sjukur-hubungan-gelap-debussy-dengan-gamelan-jawa/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=slamet-abdul-sjukur-hubungan-gelap-debussy-dengan-gamelan-jawa</link>
		<comments>http://warisanindonesia.com/2012/04/slamet-abdul-sjukur-hubungan-gelap-debussy-dengan-gamelan-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 08:27:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[debussy]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[gamelan]]></category>
		<category><![CDATA[slamet-abdul-sjukur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warisanindonesia.com/?p=5292</guid>
		<description><![CDATA[Kelahiran Surabaya tahun 1935 ini, mendapat julukan Bapak Musik Kontemporer Indonesia. Dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<fb:like href='http://warisanindonesia.com/2012/04/slamet-abdul-sjukur-hubungan-gelap-debussy-dengan-gamelan-jawa/' send='false' layout='standard' show_faces='true' width='450' height='65' action='like' colorscheme='light' font='lucida+grande'></fb:like><div id="attachment_5293" class="wp-caption alignnone" style="width: 630px"><a href="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/04/slamet-abdul-sjukur.jpg" rel="lightbox[5292]" title="slamet-abdul-sjukur"><img class="size-full wp-image-5293" title="slamet-abdul-sjukur" src="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/04/slamet-abdul-sjukur.jpg" alt="" width="620" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Warisan Indonesia/ Hardy Mendrofa</p></div>
<p>Kelahiran Surabaya tahun 1935 ini, mendapat julukan Bapak Musik Kontemporer Indonesia. Dia bekerja di Paris setelah belajar pada Olivier Messiaen, Henri Dutilleaux, dan Pierre Scheffer. Namun, mantan dekan di Institut Kesenian Jakarta ini, sekarang lebih suka menjadi komposer dan guru piano di Jakarta dan Surabaya.</p>
<p>Kini Slamet yang pernah menjadi guru Rahayu Supanggah dan Gilang Ramadhan ini, sedang mengerjakan sebuah karya musik yang dipesan oleh Pemerintah Prancis dalam rangka merayakan Tahun Debussy 2012 yang menandai 150 tahun kelahiran komponis besar dari Prancis, Claude Debussy (1862-1918). Konon Debussy sangat terpukau ketika pada 1889 mendengarkan gamelan Jawa yang tampil dalam L’exposition Universelle di Paris, khususnya dalam pameran kolonial yang menyajikan kesenian dunia Timur, untuk memperingati 100 tahun Revolusi Prancis.</p>
<p>Banyak yang berpendapat begitu besar pengaruh gamelan pada karya Debussy. Betulkah? “Ada hubungan gelap antara Debussy dan gamelan” ujar Abdul Sjukur. Rita Sri Hastuti mewawancarainya di Jakarta, di sela kesibukannya menciptakan karya yang direncanakan selesai akhir Agustus 2012.</p>
<p><strong>Ketika pada 1970-an Guruh Soekarnoputra menciptakan musik yang merupakan perpaduan musik Barat dan gamelan, ada pengamat yang menyebutkan bahwa yang sudah lebih dulu melakukan hal serupa adalah Claude Debussy Apakah betul?</strong><br />
Betul dan salah.</p>
<p><strong>Maksudnya?</strong><br />
Begini. Ceritanya, pada tahun 1889, ada l’exposition universelle sebagai peringatan 100 tahun Revolusi Prancis di penjara Bastille. Suatu festival besar-besaran diselenggarakan, termasuk didirikannya Menara Eiffel menandai peringatan sejarah tersebut. Belanda juga diundang ikut merayakan karena mereka punya koloni di Indonesia. Belanda memamerkan teh hasil perkebunan Parakan Salak, dan sebagai penggembiranya, orangorang dari perkebunan tersebut bermain gamelan bersama empat penari yang waktu itu masih berusia 14 tahunan. Menurut dokumen festival, Claude Debussy saban hari datang ke situ. Kagum.</p>
<p><strong>Sementara banyak juga yang menyangkal adanya keterkaitan antara Debussy dan gamelan. Dokumentasinya membuktikan fakta. Mengapa mereka menyangkal?</strong><br />
Sederhana. Karena Debussy tidak pernah menggunakan gamelan dalam karya-karyanya. Juga tidak tercium bau gamelan seperti yang mereka harapkan. Suatu harapan yang dangkal. Seorang jenius seperti Debussy tidak tertarik untuk sekadar meniru gamelan tapi dia tangkap intinya dan itu yang menjadi inspirasinya. Debussy membandingkan gamelan (Jawa? Sunda?) dengan musik Palestrina, yang menjadi simbol puncak musik polifoni abad-16 (musik yang terdiri dari banyak melodi yang berbunyi bersamaan, masing-masing punya jalurnya sandiri tanpa mengganggu melodi lainnya). Musik Palestrina yang sudah sangat rumit itu, menurut Debussy tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kerumitan yang demikian subtil dalam gamelan. Itu yang bicara seorang Debussy!</p>
<p><strong>Jadi betulkah Debussy dipengaruhi gamelan?</strong><br />
Ini pertanyaan mengerikan, sepertinya ada yang dijajah (Debussy) dan ada yang menjajah (gamelan). Saya melihat sisi yang lebih simpatik siapa tertarik siapa, seperti dalam hal cinta. Pada saat Debussy mendengarkan gamelan, gamelan itu mengingatkan pada apa yang sebenarnya sudah lama dia bayangkan.</p>
<p><strong>Alat musik apa yang digunakan Debussy pada waktu mengambil nuansa gamelannya?</strong><br />
Saya tunjukkan langsung di piano ya?</p>
<p><em>Slamet Abdul Sjukur, yang di Jakarta tinggal di Cipinang Muara, Jakarta Timur, mengajak ke kamarnya. Selain tempat tidur juga terdapat mini piano dan deretan buku dalam rak. Dia duduk di kursi piano, meletakkan tongkat di sisi kirinya, lalu tangannya mulai menekan tuts. Ia perdengarkan denting satu per satu dari do re mi fa sol la si do. </em></p>
<p><a href="http://warisanindonesia.com/warisan/warisan-indonesia-vol-02-no-16/"><strong><em>&#8212; Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.16 &#8212;</em></strong></a><!-- PHP 5.x --></p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://warisanindonesia.com/2012/04/slamet-abdul-sjukur-hubungan-gelap-debussy-dengan-gamelan-jawa/' addthis:title='Slamet Abdul Sjukur: Hubungan gelap Debussy dengan Gamelan Jawa '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warisanindonesia.com/2012/04/slamet-abdul-sjukur-hubungan-gelap-debussy-dengan-gamelan-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rizaldi Siagian: Provokator Musik Traditional</title>
		<link>http://warisanindonesia.com/2012/04/rizaldi-siagian-provokator-musik-traditional/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=rizaldi-siagian-provokator-musik-traditional</link>
		<comments>http://warisanindonesia.com/2012/04/rizaldi-siagian-provokator-musik-traditional/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2012 07:23:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[musik-tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[rizaldi-siagian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warisanindonesia.com/?p=5229</guid>
		<description><![CDATA[Musik tradisi bukan musik jalanan. Tiap suku punya konsep keindahan bunyi yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<fb:like href='http://warisanindonesia.com/2012/04/rizaldi-siagian-provokator-musik-traditional/' send='false' layout='standard' show_faces='true' width='450' height='65' action='like' colorscheme='light' font='lucida+grande'></fb:like><div id="attachment_5230" class="wp-caption alignnone" style="width: 630px"><a href="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/04/rizaldi-siagian.jpg" rel="lightbox[5229]" title="rizaldi-siagian"><img class="size-full wp-image-5230" title="rizaldi-siagian" src="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/04/rizaldi-siagian.jpg" alt="" width="620" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Ibnu Setiadi</p></div>
<p><strong>Musik tradisi bukan musik jalanan. Tiap suku punya konsep keindahan bunyi yang berbeda. Demikian pula konstruksi alat musik dan olah vokalnya. Inilah yang mesti dikenal agar kita semua paham terhadap kekayaan musik tradisi.</strong></p>
<p>Sebuah rumah warna muda kukuh berdiri di pojok sebuah kompleks perumahan di Kawasan Cinere, sebelah selatan Jakarta. Satu unit mobil tampak terparkir rapi di sana. Suara gemericik air yang mengalir dari sebuah sungai kecil di dekatnya terasa jelas di kuping kendatipun hujan masih mengguyur. Suasana tenang dan damai pun menyergap. Inilah kemewahan bagi penghuninya.</p>
<p>Rizaldi Siagian, sang pemilik rumah, membiarkan pintu pagar terbuka hingga kami dari Warisan Indonesia segera melangkah masuk. Ia menyambut dengan tubuh terbungkus kaus oblong, tak berapa lama ia muncul lagi dengan kaus berkerah. Sementara istrinya mengenakan busana Muslim yang kini banyak digemari perempuan, Kaftan.</p>
<p>Pasangan suami-istri ini tampak menyiapkan diri menyambut kedatangan kami. Mungkin seperti itu kebiasaan mereka menghargai tamu yang bertandang. Kami pun merasa kikuk mengingat reputasinya di kancah musik yang sedemikian besar. Dia bukan orang main-main.</p>
<p>Di bagian dalam rumah itu, ada ruang tamu cukup luas. Sepasang sofa ada di sana. Panjangnya lebih dari lima meter, si empunya rumah meletakkan taganing, yakni alat musik tradisional Batak Toba yang terdiri dari enam buah kendang yang tergolong ensambel Gondang Sabangunan.</p>
<p><strong>Mantan Rocker</strong><br />
Rizaldi Siagian, kelahiran Binjai, Sumatera Utara, 25 April 1951, kerap dijuluki provokator musik tradisional. Julukan itu amat lekat seolah-olah sejak lahir ia tak mengenal hal lain kecuali musik jenis ini.</p>
<p>“Siapa bilang, saya sejak dulu hanya mengurusi music tradisional. Saya ini kan bekas rocker,” tegasnya. Jalan bermusik ayah anak empat anak ini memang panjang demikian pula deretan prestasinya. Ia baru duduk di bangku kuliah pada usia 28 tahun setelah cukup banyak pengalaman bermain musik. Kampus yang ia pilih adalah Fakultas Sastra Jurusan Etnomusikologi, Universitas Sumatera Utara, Medan. Ia menjadi mahasiswa angkatan 1979.</p>
<p>Di luar kampus, Rizaldi, pemuda Batak yang tergabung dalam sebuah kelompok musik beraliran rock bernama Great Season. Ia andal menggebuk drum. Jelly Tobing adalah kompetitornya yang terus setia di jalur music nakal itu hingga kini. Jalan hidup berikutnya amat berbeda kendati terus berurusan dengan musik.<em> (WI/ Viesta karwila/Donny Iswandono)</em></p>
<p><a href="http://warisanindonesia.com/warisan/warisan-indonesia-vol-02-no-15/"><strong><em>&#8212; Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.15 &#8212;</em></strong></a><!-- PHP 5.x --></p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://warisanindonesia.com/2012/04/rizaldi-siagian-provokator-musik-traditional/' addthis:title='Rizaldi Siagian: Provokator Musik Traditional '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warisanindonesia.com/2012/04/rizaldi-siagian-provokator-musik-traditional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kamila Andini, Akhirnya ke Pelaminan Juga</title>
		<link>http://warisanindonesia.com/2012/03/kamila-andini-akhirnya-ke-pelaminan-juga/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kamila-andini-akhirnya-ke-pelaminan-juga</link>
		<comments>http://warisanindonesia.com/2012/03/kamila-andini-akhirnya-ke-pelaminan-juga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Mar 2012 10:55:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[garin-nugroho]]></category>
		<category><![CDATA[kamila-andini]]></category>
		<category><![CDATA[mirror-never-lies]]></category>
		<category><![CDATA[sineas]]></category>
		<category><![CDATA[sinema]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warisanindonesia.com/?p=5151</guid>
		<description><![CDATA[Nama Kamila Andini mencuat sejak Oktober 2011 ketika filmnya, The Mirror Never [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<fb:like href='http://warisanindonesia.com/2012/03/kamila-andini-akhirnya-ke-pelaminan-juga/' send='false' layout='standard' show_faces='true' width='450' height='65' action='like' colorscheme='light' font='lucida+grande'></fb:like><div id="attachment_5152" class="wp-caption alignnone" style="width: 630px"><a href="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/03/kamila-andini.jpg" rel="lightbox[5151]" title="kamila-andini"><img class="size-full wp-image-5152" title="kamila-andini" src="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/03/kamila-andini.jpg" alt="" width="620" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Warisan Indonesia/Hardy Mendrofa</p></div>
<p><strong>Nama Kamila Andini mencuat sejak Oktober 2011 ketika filmnya, The Mirror Never Lies, mendapat penghargaan di Mumbai Film Festival 2011, India.  Namanya semakin kokoh ketika pada Desember 2011, melalui film perdananya itu, ia memperoleh Piala Citra sebagai Penulis Cerita Asli Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2011. Pada Maret 2012 ini, ia menikah dengan Ifa Isfansyah.</strong></p>
<p>Perjalanannya menjadi sineas muda selalu dikaitkan dengan ayahnya yang sudah sangat dikenal karya filmnya, yaitu Garin Nugroho Riyanto (50). Buah hati Garin Nugroho dengan Riani Ikaswati (47) ini sadar betul akan hal itu. Maka, awalnya gadis bernama lengkap Kamila Andinisari ini selalu berusaha menghindari karier di film.</p>
<p>Dini, begitu sapaan akrabnya, selalu mengatakan tak bercita-cita menjadi sutradara. Apalagi, sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama sudah banyak yang menebak bahwa kariernya kelak akan menjadi sutradara, seperti ayahnya. Dalam pemikirannya, tidak semua anak menyamai jalan hidup ayah mereka.</p>
<p>Acara menonton film memang menjadi kebiasaan rutinnya bersama sang ayah, tetapi ia berkeras tidak tertarik dengan cara membuat film. Upayanya menjauhi dunia film adalah dengan menekuni bidang lain. Semasa kecil ia sudah diberi kebebasan untuk mempelajari iniitu, seperti menari, membaca puisi, menyanyi, bahkan menyelam. Tanpa disadarinya, justru dunia selam yang membawanya ke dunia film.</p>
<p><strong>&#8220;The Sound of Music&#8221;</strong><br />
Sedari kecil, dara kelahiran Jakarta, 6 Mei 1986, ini kenyang akan film dan literatur ayahnya. Kumpulan kaset video hingga cakram padat menghiasi ruang menonton di rumahnya. Rak-rak buku yang berderet di ruang itu menjadi saksi pendewasaannya dalam memperkaya ilmu dan pengetahuan.</p>
<p>Di antara ribuan judul karya di rak, terselip film The Sound of Music yang dirilis 1965. Film tersebut berkisah tentang tujuh anak kapten Angkatan Laut Austria yang diasuh biarawati. Hidup yang diwarnai musik serta tarian membuat jiwa anak-anak itu bebas dalam usianya. Suasana tersebut sangat jauh dari tradisi militer sehingga lambat laun anak-anak yang semula nakal dan jahil akhirnya menyenangi sang pengasuh.</p>
<p>Dini ingat, saat menonton film tersebut, sama sekali tidak berhasrat menghabiskan seluruh adegan di film yang, menurut dia, nyaris tanpa klimaks itu. Namun, sang ayah tetap memaksanya menonton hingga selesai.  Belakangan, dia mengerti alasan ayahnya, bila Dini bisa melawan kebosanan dalam durasi tiga jam, akan selalu ingat dengan film itu. Dan benar saja, Kamila Andinisari masih ingat, The Sound of Music sebagai film musikal yang membuka matanya untuk banyak hal. (WI/Viesta Karwila)</p>
<p><a href="http://warisanindonesia.com/warisan/warisan-indonesia-vol-02-no-15/"><strong><em>&#8212; Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.15 &#8212;</em></strong></a><!-- PHP 5.x --></p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://warisanindonesia.com/2012/03/kamila-andini-akhirnya-ke-pelaminan-juga/' addthis:title='Kamila Andini, Akhirnya ke Pelaminan Juga '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warisanindonesia.com/2012/03/kamila-andini-akhirnya-ke-pelaminan-juga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahayu Supanggah, Menduniakan Gamelan</title>
		<link>http://warisanindonesia.com/2012/03/rahayu-supanggah-menduniakan-gamelan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=rahayu-supanggah-menduniakan-gamelan</link>
		<comments>http://warisanindonesia.com/2012/03/rahayu-supanggah-menduniakan-gamelan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Mar 2012 07:15:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>superadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[gamelan]]></category>
		<category><![CDATA[rahayu-supanggah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warisanindonesia.com/?p=4934</guid>
		<description><![CDATA[Di tangannya, gamelan-musik tradisional Jawa mendunia dan pernah dia mainkan bersama London [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<fb:like href='http://warisanindonesia.com/2012/03/rahayu-supanggah-menduniakan-gamelan/' send='false' layout='standard' show_faces='true' width='450' height='65' action='like' colorscheme='light' font='lucida+grande'></fb:like><div id="attachment_4935" class="wp-caption alignnone" style="width: 630px"><a href="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/03/rahayu-supanggah.jpg" rel="lightbox[4934]" title="rahayu-supanggah"><img class="size-full wp-image-4935" title="rahayu-supanggah" src="http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/03/rahayu-supanggah.jpg" alt="" width="620" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Warisan Indonesia/Hardy Mendrofa</p></div>
<p><strong>Di tangannya, gamelan-musik tradisional Jawa mendunia dan pernah dia mainkan bersama London Symphonieta Orchestra.</strong></p>
<p>BERMULA dari ketidaksukaannya dengan karawitan atau seni musik gamelan, Prof. Dr. Rahayu Supanggah, S.Kar, malah meniti sukses di musik tradisional ini. Melanglang dunia dengan menyinggahi sejumlah negara, beberapa kota di Indonesia, beserta deretan penghargaan adalah raihan yang diperolehnya dalam menggeluti seni musik tradisional Jawa ini.  Rahayu Supanggah memang lahir dari keluarga seniman.</p>
<p>Ayahnya seorang dalang dan ibunya pemain gender. Kakeknya pun seorang dalang. Namun, Rahayu kecil tak pernah bercita-cita menjadi seniman. Dia mengaku kepepet karena tak bisa masuk sekolah menengah atas (SMA), kemudian nyasar bersekolah di Konservatori Karawitan Surakarta untuk belajar gamelan. Dari situlah dia mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Solo—kala itu gratis—yang sebenarnya semula bukan pilihannya.  Sekitar tahun 1965, ketika Rahayu Supanggah berumur 15 tahun, dia ikut dalam misi kesenian Indonesia ke China, Korea Selatan, dan Jepang. Dia bertindak sebagai penabuh gamelan dan penampilannya membuat decak kagum yang menyaksikan.</p>
<p>Sejak saat itu, kecintaan Rahayu Supanggah pada karawitan semakin bertambah. Hingga saat ini, karawitan menjadi jalan seni sekaligus jalan hidupnya, hingga ia dijuluki “Maestro Gamelan Asal Solo”.  “Bagaimanapun saya kini bisa hidup, bisa berkeliling dunia dan bisa membeli mobil juga dari karawitan. Jadi, menurut saya, seni musik tradisional, seperti karawitan, pun bisa menjamin hidup orang,” kata pria kelahiran Teras, Boyolali, 29 Agustus 1949, ini.</p>
<p>Rahayu meyakini bahwa seni karawitan akan semakin berkembang pada masa mendatang jika melihat kemajuannya saat ini. Dia pun kagum, karawitan tak lagi menjadi dominasi orang-orang tua. Kini, banyak anak muda semakin menggandrungi. Kreativitas anak muda dengan mengelaborasi gamelan bersama seni musik lain menambah kelenturan karawitan agar bisa diterima masyarakat.</p>
<p>“Sekarang pemain gamelan yang tua-tua sudah tidak laku, malah sekarang didominasi anak muda. Di Institut Seni Indonesia (ISI) saja, peminat jurusan karawitan terus membeludak hingga nolak-nolak,” ujarnya.  Menurut Rahayu Supanggah, hal ini menunjukkan bahwa karawitan pada masa mendatang akan semakin maju karena bibit pemainnya pun sudah tercetak. “Namun, yang lebih penting, seni karawitan harus bisa mengikuti zaman. Jadi, kalau memang akan dikolaborasi dengan musik jazz, klasik, ataupun rock tak masalah. Hal ini justru yang akan membuat karawitan bertahan,” tambahnya.  Rahayu juga kurang sependapat, karawitan era sekarang sudah menyimpang dari pakem. Ditegaskannya bahwa yang bicara pakem pada seni karawitan itu hanyalah wacana karena memang tidak ada bukti pakem karawitan yang jelas. “Mana buktinya kalau memang ada pakemnya,” katanya. (Iyan Dwi S)</p>
<p><a href="http://warisanindonesia.com/warisan/warisan-indonesia-vol-02-no-14/"><strong><em>&#8212; Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.14 &#8212;</em></strong></a><!-- PHP 5.x --></p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://warisanindonesia.com/2012/03/rahayu-supanggah-menduniakan-gamelan/' addthis:title='Rahayu Supanggah, Menduniakan Gamelan '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warisanindonesia.com/2012/03/rahayu-supanggah-menduniakan-gamelan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
