Sekitar 105 bangunan kuno berarsitektur kolonial di kawasan Kota Lama, Semarang, Jawa Tengah, yang pada zaman keemasan berjulukan “Little Netherland” sebagian besar kini kondisinya memprihatinkan dan kian terkucil.
Menginjakkan kaki di sudut Kota Semarang bagian utara, kita akan melihat bangunanbangunan tua yang berdiri mengelompok di Kota Lama (out stadt). Bangunan berarsitektur kolonial, tepatnya karya para arsitektur Belanda yang pernah menguasai kota ini. Namun, sayang, sebagian besar kini nyaris roboh dan melenyapkan sejarah yang terkandung. Beberapa gedung bahkan menjadi sarang pekerja seks komersial (PSK) liar.
Memprihatinkan! Mungkin itu kata yang pas untuk menilai kondisi terkini bangunan kuno di kawasan Kota Lama, Semarang, Jawa Tengah. Bangunan banyak tak utuh lagi. Ada yang tinggal temboknya, ada yang utuh tembok dan atap, tetapi nyaris roboh karena tak terawat. Ada yang benar-benar sudah roboh rata dengan tanah. Hanya tanaman liar dan akar menjulur panjang merambat di tembok bangunan. Bahkan, sebuah bangunan yang atapnya hilang, di dalam ruangan berubah menjadi hutan karena penuh tumbuhan liar. Sebuah aset sejarah yang kini malah jadi pemandangan angker karena tak adanya perawatan serius.
Kondisi diperparah dengan dimanfaatkannya kawasan Kota Lama sebagai mangkalnya para “kupu-kupu malam” kelas jalanan. Baik banjir maupun limpahan air rob yang selalu menggenang menambah predikat kekumuhan Kota Lama.
Memang, ada sebagian bangunan kuno itu yang kini masih terawat dengan baik dan digunakan untuk kegiatan tertentu. Bangunan tersebut, misalnya, Gereja GPIB Immanuel (Gereja Blenduk) yang terletak di Jalan Letjen Suprapto No. 32 dengan atap seperti irisan bola sehingga orang mengatakan blenduk. Dulu pada zaman Belanda, gereja ini bernama Nederlandsch Indische Kerk, dibangun pada 1753 dengan bentuk heksagonal atau persegi delapan. Gedung ini direnovasi pada 1894 oleh W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde, yang menambahkan dua menara di depan bangunan gereja.
Hanya sepelemparan batu dari Gereja Blenduk, berdiri Semarang Contemporary Art Gallery, yang semula merupakan pabrik limun yang direkonstruksi menjadi salah satu galeri seni rupa. Tepat di depan Gereja Blenduk, berdiri sebuah restoran makanan Sunda yang menggunakan gedung bekas pengadilan pada masa Hindia Belanda.
Masih berdiri pula Gedung Jiwasraya dan Pasar Johar, sebuah bangunan karya arsitektur kenamaan Thomas Karsten dengan kekhasannya, banyak jendela. Atau Stasiun Tawang yang sampai kini masih dioperasionalkan untuk layanan transportasi kereta api. Namun, sungguh ironis, karena itu hanya hiasan kecil dari puluhan bangunan kuno yang seharusnya menjadi situs bersejarah bagi bangsa Indonesia, khususnya Kota Semarang. (Iyan DS)
— Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.17 —














