Warisan Indonesia/Hardy Mendrofa

MENGAWALI karier sebagai gadis sampul majalah remaja pertengahan tahun 1990-an, Happy Salma kini menjelma menjadi pekerja seni yang patut diperhitungkan. Dunia kepenulisan dan panggung dia taklukkan sekaligus dalam satu helaan napas. Apa yang menjadi titik balik lompatan kariernya?

“SAYA mengakui bahwa karya-karya besar sastra Indonesia banyak memengaruhi cara pandang saya. Bahkan, saya berani menggeluti dunia panggung teater juga karena kecintaan saya pada karya-karya besar tersebut,” begitu pengakuan pekerja seni berwajah ayu tersebut tanpa merinci karya-karya besar mana yang dia maksudkan.

Menjelang peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April ini, Happy Salma tengah disibukkan dengan berbagai rutinitas. Salah satunya, latihan pementasan “Roro Mendut”, yang akan dihelat pada 14 April 2012 lalu di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Happy Salma, kelahiran Sukabumi 14 Januari 1980 ini, mengaku sejak kecil sudah terbiasa menulis puisi, menari, hingga mengikuti cerdas-cermat. Happy adalah anak keempat dari enam bersaudara. Ayahnya bernama Dachlan Suhendara (almarhum), dan ibunya, Iis Rohaeni, seorang pengusaha mebel sekaligus kontraktor. Kini, Happy berstatus nyonya Tjokorda Dwi Santana Max Kerthyasa, seorang pengusaha asal “Pulau Dewata” Bali.

“Saat duduk di bangku sekolah dasar (SD), saya senang bikin cerita pendek (cerpen), suka bikin majalah sendiri buat adik saya dan anaknya bibi di rumah jadi pelanggannya,” kenangnya, saat ditemui di sela-sela latihan pementasan “Roro Mendut” di House Club, Apartemen Pavilliun, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, baru-baru ini.

Semasa sekolah menengah atas (SMA) dia suka kirimkirim cerpen, karya pertamanya dimuat di majalah remaja Aneka Yes untuk edisi Valentine. “Sebetulnya banyak, tetapi sudah lupa. Jadi, kalau saya mau introspeksi salah satunya membaca tulisan-tulisan saya, itu kayak identitas pribadi,” katanya.

Pada usia 15 tahun, tepatnya 1995, Happy pernah menjadi finalis wajah gadis sampul yang diselenggarakan oleh majalah Gadis, sebuah majalah yang waktu itu sedang digandrungi remaja-remaja seusianya. Namun, setelah dia terpilih sebagai finalis justru dia merasa tertekan karena, menurut dia, menjadi model itu bukan perkara mudah. Selain harus tampil cantik, juga harus pandai bergaya.

Sehingga dunia permodelan tidak dia tekuni. “Bingung mesti gimana waktu itu,” ujar Happy, perempuan yang sangat mengidolakan ibunya tersebut. Kendati begitu, sejak saat itu Happy mulai mengenal dunia hiburan. Perjalanannya dimulai ketika kakaknya mengenalkan dirinya dengan seorang personel band U Camp asal Bandung, Eri namanya. Pada usianya yang baru menginjak 17 tahun, Happy mulai masuk dunia rekaman.

Tak lama berselang, dia kenal Franky Sahilatua (almarhum) berkat Eri, personel band U Camp. Bersama Franky Sahilatua, dia pernah rekaman, tetapi sayang, album yang mereka bikin terbengkalai di tengah jalan karena ada masalah internal dengan pihak perusahaan rekaman.

Kemudian, berkat Franky Sahilatua juga Happy mendapat tawaran untuk bermain sinetron. Alhasil, di ujung tahun 1998, dia bermain sinetron berjudul Kupu-Kupu Ungu. Namun, setelah menjalani kehidupan sebagai seorang pemain sinetron, presenter, dan iklan yang telah digelutinya selama bertahun-tahun itu ternyata membuatnya merasa kesepian.

Pada awal 2006, Happy Salma sempat mengalami krisis dalam pencarian jati diri—ketika dunia selebritas ternyata membuat dia merasa sepi di tengah keramaian. Dia melarikan diri pada dunia sunyi, yakni dunia menulis—dunia yang digemarinya sejak kanak-kanak. (WI/Bambang Triyono)

— Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.16 —

Related Articles: