
Arief Sukardono
Sebuah pameran foto digelar di Sangkring Art Project, Nitiprayan, Yogyakarta, pada Januari lalu. Pameran ini bisa dibilang unik karena yang ditampilkan foto-foto dengan objek situs-situs abad pertengahan yang tersebar di seantero Tanah Air.
Foto-foto tersebut merupakan hasil jepretan para personel yang tergabung dalam komunitas Bol Brutu, yang sesuai namanya—Bol Brutu akronim dari Gerombolan Pemburu Batu—terdiri dari pengunjung setia situs-situs.
Komunitas yang terbentuk lewat jejaring sosial Facebook sejak tiga tahun lalu ini jumlah anggotanya lebih dari seratus orang, berasal dari beragam latar belakang profesi, usia, ataupun domisili.
“Ada akademisi, budayawan, pelajar, seniman, dll. Mereka dipertemukan oleh hobi—lebih tepatnya kesukaan—yang sama, yakni blusukan mengunjungi situs-situs,” tutur Hairus Salim, salah seorang penggiat Bol Brutu yang berdomisili di Yogyakarta.
Maka tidak mengherankan, meski judulnya “pameran foto”, yang ditonjolkan bukan kecanggihan atau keindahan hasil foto, melainkan informasi kepada publik tentang keberadaan situs. “Pameran ini hanyalah sarana untuk menyampaikan sesuatu yang lebih penting, yakni keberadaan situs,” ujar Hairus Salim. “Yang disebut situs abad pertengahan di sini adalah situs era Hindu-Buddha antara abad VII dan XIV,” kata Hairus.
Boleh jadi, inilah pameran foto pertama kali yang mengetengahkan objek situs. Bagi para “brutuis” (sebutan bagi para personel Bol Brutu), mungkin tujuannya hanyalah berbagi pengalaman, tetapi sebenarnya pameran ini memiliki efek pewartaan yang penting bagi banyak kalangan. Bagi dinas purbakala, misalnya, dengan adanya kegiatan para brutuis dan juga pameran ini, setidaknya dapat menjadi referensi dalam rangka pendataan kembali keberadaan situs. (Singgir Kartana)
— Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.15 —













