Dusun Mangir lekat dengan Siwaisme, sebuah tradisi pemujaan Dewa Siwa. Inilah kluster budaya peninggalan Majapahit yang masih terasa denyutnya hingga kini.
Sepintas, Dusun Mangir tak beda dengan pedusunan lain di Bantul, Yogyakarta. Kala siang suasana terasa teduh oleh rimbunnya pepohonan sesekali terdengar suara teriakan orangorang yang bekerja di sawah. Tak ada hiruk-pikuk suara kendaraan, orang pun terlihat santai di alam agraris.
Namun, desa ini jauh lebih kondang ketimbang desadesa lain di sekitarnya. Orang banyak yakin di sanalah dahulu pernah berkuasa seorang tokoh legendaris Ki Ageng Mangir Wanabaya.
Pada zamannya, tokoh itu adalah penguasa lokal keturunan Majapahit, yang pernah menjadi rival politik Kerajaan Mataram Islam pada era Panembahan Senopati (1590-1610 M). Kisah hidup hingga kematiannya hingga kini menyisakan kontroversi “abadi”, yang lebih banyak dibalut aroma legenda dan cerita lisan daripada fakta sejarahnya.
Legenda itu kini ikut mendongkrak popularitas dusun yang terletak 30 kilometer sebelah Barat Daya pusat Kota Yogyakarta ini. Pemerintah Kabupaten Bantul mengukuhkan dusun itu sebagai kawasan wisata ritual. Konon, Dusun Mangir, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, adalah pedusunan tertua Yogyakarta dan Jawa Tengah. Di sanalah orang mencatat perkembangan Siwaisme. Kita masih bisa menemukan bukti arkeologis berupa temuan lingga dan yoni terbuat dari batu andesit yang merupakan simbol Siwaisme. (Singgir Kartana)
— Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.16 —














