Warisan Indonesia/Hardy Mendrofa

Gedung berwarna putih di kaki Gunung Ceremai itu mula-mula hanya sebuah gubuk sederhana milik seorang janda. Letaknya yang strategis membuat orang kaya tertarik membeli dan mengubahnya jadi bangunan besar untuk hotel. Sejarah republik pun bergulir dari sana.

Desa itu bernama Linggarjati. Entah apa maksud sesungguhnya. Ada yang mengaitkannya dengan Sunan Gunungjati. Linggar berarti linggih atau duduk. Di situlah sunan itu pernah beristirahat saat menempuh perjalanan untuk menyebarkan Islam. Mungkin saja hal itu benar, tetapi yang jelas, dulu di sanalah para sunan sering berkumpul untuk membicarakan kemajuan penyebaran ajaran nabi di tanah Jawa.

Tak hanya bagi sejarah Islam, bagi Republik Indonesia desa itu juga penting. Di sanalah perundingan penyelesaian pertikaian antara kaum republiken dan tentara kolonial Belanda pernah berlangsung. Gedung bekas tempat perundingan itu kini menjadi sebuah museum. Letaknya paling ujung Desa Linggarjati tak jauh dari jalan raya. Kondisi gedung tersebut kini cukup terawat, ada pepohonan rindang, juga rerumputan tumbuh subur di sekitar lahan seluas 2,4 hektar itu. Desa Linggarjati ini berada di wilayah Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Desa ini berada di ketinggian 400 meter dari permukaan laut. Desa ini diapit oleh tiga desa, yaitu sebelah selatan berbatasan dengan Desa Linggasana; sebelah timur ada Desa Linggamekar; lalu sebelah utara berbatasan dengan Desa Lingga Indah; dan sebelah barat berbatasan dengan Gunung Ceremai.

“Dulu, bangunan itu berupa sebuah gubuk milik seorang janda bernama Jasitem,” tutur juru pelihara Museum Perundingan Linggarjati, Toto Rudianto, mengawali kisahnya.

Pada dekade kedua abad ke-20, Jasitem hidup sebatang kara di sana. Pada 1921, datanglah seorang pengusaha gula berdarah Belanda dari Sindanglaut, Cirebon. Pria yang biasa dipanggil Tuan Karsana menikahi janda itu lalu merombak gubuk milik istrinya menjadi bangunan yang lebih baik.

Tahun 1930, seorang saudagar kaya bernama Tuan Von Ost Dome, yang bernama asli Yacobus Yohanes Santos, membeli rumah itu. Barulah wujud bangunan itu berubah seperti sekarang. Fungsinya bukan lagi sebagai rumah, melainkan tempat beristirahat. Lalu berubah lagi pada 1935, saat dikontrak oleh Heiker yang mengusahakannya sebagai Hotel Rus Toord.

“Saat pendudukan pasukan Jepang pada 1942, nama gedung ini menjadi Hotel Hokay Ryokan. Kemudian pada 1945, giliran Pemerintah Republik Indonesia mengambil alih setelah kemerdekaan. Namanya pun berubah kembali menjadi Hotel Merdeka,” lanjut Toto Rudianto. (WI/ Bambang Triyono)

— Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.02 No.15 —

Related Articles: