Warisan Indonesia/Hardy Mendrofa

Dibandingkan ilmu kedokteran modern, pengobatan tradisional sangkal putung lebih dipercaya masyarakat. Telah ratusan tahun keahlian menyambungkan tulang patah ini dikuasai terapis di Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara, ataupun Cimande, Sukabumi, Jawa Barat. Kini, sangkal putung menyebar ke kota-kota besar di Nusantara.

Sepintas bangunan rumah di bilangan Pondok Kopi, Jakarta Timur, itu tidak berbeda dibandingkan rumah-rumah di sekitarnya. Namun, begitu memasuki ruangan, kita akan terhenyak saat menatap puluhan pasien terkulai membujur di tempat tidur. Di sebuah barak bahkan berisi 30 dipan tanpa kasur yang dihuni pasien rawat inap. Nyaris tiada dipan yang kosong. Ada yang sudah 12 bulan dirawat, ada pula yang baru masuk perawatan. Semua pasien memiliki masalah serupa, patah tulang.

Adhi (38), salah seorang pasien menceritakan, dirinya sudah tiga hari menjalani rawat inap di Balai Pengobatan Gurusinga, Pondok Kopi, setelah dinyatakan oleh Bagian Radiologi Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta, mengalami patah tulang hasta. Ia berharap hari keempat sudah diperbolehkan pulang.

“Saya ke sini setelah melihat hasil foto rontgen dari dokter St. Carolus, saya mengalami patah tulang. Sayang kalau dioperasi karena patahnya kecil. Lagian, untuk menghemat biaya, kalau operasi bisa sampai Rp 20 juta sedangkan di sangkal putung biaya masuk hanya Rp 1,5 juta; biaya rawat inap Rp 125.000 per hari sudah mendapat makan tiga kali sehari, diterapi tiap hari,” tutur Adhi yang menghuni kamar berpendingin ruangan (AC) dan televisi.

Layaknya rumah sakit, ruang rawat inap di balai pengobatan ini juga memiliki beberapa kelas: I, II, dan III. serta dinamai dengan nama gunung seperti Tampomas, Sibolangit, Rinjani, Kerinci, dan Sinabung. Mendiang Rusli Gurusinga atau biasa dipanggil Gurusinga, perintis balai pengobatan ini, memang berasal dari Suku Karo yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara. Gurusinga merupakan submarga Karo-karo dalam Suku Karo yang diturunkan kepada anak laki-laki. Gurusinga dikenal banyak orang karena bisa mengobati patah tulang tanpa memasang gips di bagian yang patah apalagi mengoperasi. (WI/Viesta Karwila)

— Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.01 No.12 —

Related Articles: