Pada 17 Agustus 2011, bangsa Indonesia memperingati 66 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Pada tanggal dan bulan yang sama, Tugu Nasional (Tunas) atau Monumen Nasional (Monas) juga berulang tahun, tetapi ke-50. Karena bertepatan dengan peringatan HUT ke-16 Kemerdekaan RI, tanggal 17 Agustus 1961, Bung Karno memancangkan tiang pertama pembangunan Tugu Nasional di tengah-tengah Lapangan Ikada atau Lapangan Merdeka, Jakarta.
Untuk mengisi peringatan Tunas—yang oleh Bung Karno, pada 1959, diganti menjadi Monas—ada baiknya kita renungkan beberapa kalimat yang pernah diucapkan Bung Karno. Selain mengandung penjelasan tentang makna simbol-simbol dan tujuannya, kalimat-kalimat itu disampaikan dalam pidato yang puitis.
Makna Tunas
Ketika gagasan itu akan direalisasikan, banyak kritik ditulis di surat kabar. Antara lain, “Gang-gang di Jakarta masih becek, kenapa memikirkan tugu? Akan lebih baik kalau gang becek itu yang diperbaiki.”
Terhadap kritik itu, Bung Karno menjawab, “Masalah gang becek tetap menjadi kewajiban kita untuk memperbaiki. Tetapi, untuk secara visual memberikan kepada bangsa Indonesia satu tanda kebesaran sebagai bangsa, tanda kebesaran kita sebagai negara, Tugu Nasional menjadi salah satu pilihan.”
Kritik itu juga datang dari orang asing. Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Uni Soviet, Nikita Khruschov, di Tampaksiring, Bali, tahun 1960, Bung Karno menceritakan rencana pendirian Tunas. Sang sahabat menjawab, ”Tuan Presiden, kalau orang sedang telanjang, yang harus didahulukan adalah membeli celana, jangan sedang telanjang yang didahulukan beli dasi.”
Mendengar sindiran itu, dengan cepat Bung Karno menangkis, “Lha, pada waktu rakyat Uni Soviet sedang telanjang, sedang menderita, rakyat di Samarkan—dekat Leningrad—kelaparan, kok Uni Soviet mendirikan monumen-monumen, kok mendirikan lambanglambang?” Setelah mendengar tangkisan Bung Karno yang jitu itu, Khruschov membenarkan bahwa Tunas bagi bangsa Indonesia adalah ”celana” juga.
Dari balik berbalas sindiran itu, kita dapat menangkap kesungguhan Bung Karno dalam membangun media untuk memajukan bangsanya. Bentuk tugu, menjadi pilihan memvisualkan berbagai simbol yang merupakan kesimpulan dan inti dari keindonesiaan kita. Dari beberapa pidato Bung Karno tentang pembangunan Tunas, dapat dipetik beberapa kalimat puitis yang patut dijadikan panduan dalam membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar.
Pada acara penyerahan hadiah pemenang Sayembara Rencana Tugu Nasional, 27 Juni 1960, Bung Karno menggambarkan bagaimana seharusnya pemimpin mengabdi kepada rakyatnya agar menjadi bangsa yang hebat. (Nunus Sapardi)
— Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.01 No.09 —














