WARISAN INDONESIA / Hardy Mendröfa

Ibarat roda, zaman terus bergerak ke depan. Peninggalan masa lalu harus menyesuaikan diri jika ingin tetap hidup pada hari ini.

Warisan masa lalu yang kini bertahan hidup jumlahnya relatif banyak, tetapi “kesehatannya” tidak semuanya oke. Harus diakui, sebagian besar harus berjuang mati-matian supaya tidak sakit, sebagian yang lain menunggu ajal karena tidak kuat bertempur dengan selera masa kini, yang lebih banyak menuntut kepraktisan, harga murah, kuat, dan penampilan menarik.

Di antara produk budaya masa lalu yang kini berjuang mati-matian untuk tetap bisa hidup dan disukai oleh orang-orang masa kini, di antaranya, adalah payung, teklek Jawa, kelom geulis dari Tasikmalaya, dan celengan dari tanah liat. Baik teklek Jawa, kelom, payung, maupun celengan tanah liat itu sama-sama merupakan hasil kerajinan rakyat.

Teklek Jawa alias bakiak, alas kaki tradisional, itu hingga hari ini masih sering kita jumpai dipakai oleh orang-orang di pelosok desa Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga pinggiran Jakarta. Menghadapi pesaingnya—sandal jepit—yang terus dikembangkan desain, pilihan bahan, dan pilihan warnanya, teklek yang berbahan sekeping kayu polos dan sepotong karet ban di Yogyakarta, misalnya, dimodifikasi dengan batik sehingga pamornya naik. Cobalah, kalau Anda jalanjalan ke Malioboro, mampir dan belilah.

Lalu bagaimana dengan nasib celengan tradisional? Benda gerabah yang satu ini punya sejarah yang panjang. Paling tidak, celengan sudah ada sejak zaman Majapahit dan tersebar di sejumlah daerah di Indonesia, mulai dari Trowulan, Kasongan, Solo, Lombok, Cepu, hingga Bojonegoro.

Tahun 1960-an hingga awal tahun 1980-an, celengan tradisional ini masih banyak kita jumpai di rumah-rumah, seiring dengan para keluarga Indonesia membiasakan hidup berhemat untuk mendukung cita-cita anak agar bisa menempuh pendidikan tinggi meski sekeluarga harus mengencangkan ikat pinggang. Namun, setelah bank booming di Tanah Air pada akhir dasawarsa 1980-an, “bank tanah” yang berbentuk celeng (babi hutan), gajah, kuda, harimau, ayam, kambing, kodok, hingga aneka buah-buahan, lambat laun kehilangan perannya. (WI/Yusuf Susilo Hartono)

— Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.01 No.06 —

Related Articles: