Foto: Istimewa

DARI sebuah panggung berornamen Kalimantan Timur di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Juli lalu, terdengar alunan musik bernuansa Melayu mengiringi tarian tradisonal ‘Tujuh Putri’.

Para penari ini tampil dalam upacara adat untuk menyambut para tamu undangan, pada acara bertajuk ‘Upacara Adat Tepung Tawar Suku Tidung dan Upacara Adat Pengobatan Suku Dayak Bulusu’, yang dihelat Pemerintah Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Timur.

Upacara Adat Tepung tawar sendiri dilakukan untuk menjalin kekerabatan, ikatan tulus, dan menjaga perdamaian dengan sesama mahluk tuhan. “Kita di Kabupaten Tana Tidung tetap berusaha mempertahankan ciri khas budaya yang ada. Sebab, dasar maju mundurnya suatu daerah atau kota tergantung dari budaya. Karena budaya menggambarkan identitas daerah atau kota, bahkan negara,” ungkap_Asyamsuddin, Ketua Pelaksana dari Dinas Pariwisata, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Timur.

Upacara Tepung Tawar biasanya dilakukan pada saat menerima kedatangan pejabat atau tamu kehormatan lainnya yang berkunjung ke satu daerah. Sesampainya di daerah yang dikunjungi, biasanya properti upacara, berupa mayang pinang, sirih, keris, beras kuning, daun tawar, dan_ air kunyit telah disiapkan._Selanjutnya, bentuk pemberkatan berupa penaburan beras kuning serta memercikkan air ke tubuh tamu kehormatan tersebut. Adapun tujuan utama upacara ini adalah sebagai bentuk tolak bala.

Memang tak mudah untuk terus melestarikan budaya tanah asal. Namun bagi masyarakat Tana Tidung, Upacara Tepung Tawar tetap dilakukan. Lantaran mereka tahu, inilah sebuah tradisi yang diwariskan para nenek moyang. (bam)

— Selengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.01 No.01 —

Related Articles: