
Foto: Istimewa
Dikenal sejak 400 tahun lalu. Sebagai penghormatan kepada leluhur. Punggawa Rattung-lah yang memperkenalkannya.
Warga Dusun Toroh Selatan Desa Tanjung Luar Kecamatan Keruak Kabupaten Lombok Timur melakukan Nyalamak Dilau dengan cara Ditiba Tikolok (melarung kepala kerbau) ke lokasi batu karang di tengah laut. Ini dilakukan untuk mensyukuri hasil panen dan rezeki melaut.
NYALAMAK Dilau yang berarti selamatan laut atau bisa pula disebut sebagai Nyalama Palabuang – selamatan pelabuhan, diselenggarakan di Toroh Selatan Tanjung Luar, Rabu (18/7) pagi. Sebagai tradisi dari nelayan yang mayoritas berasal dari suku asal Sulawesi Selatan : Bajo, Mandar, Bugis dan Makassar dilakukan kembali setelah dua tahun absen karena alasan biaya.
Berawal dari rumah adat yang berukuran sekitar panjang 15 meter dan lebar enam meter. Di sana, di atas Sarapo (panggung) yang terbuka yang dipasangi empat bendera pada empat sisi arah mata angin, seorang Sandro (dukun) bernama Daeng Abas yang mengenakan baju kuning berada di samping kanan kotak berisi kepala kerbau yang dipotong malam sebelumnya. Seorang sandro Dende (perempuan) ikut melakukan tindak prosesi. Di sekitarnya, ikut pula para Bone-Bone (pemuda dan gadis) yang belum kawin masing-masing tujuh orang. Ada juga laki-laki Pangalantik yang bersenjata mengawal Sandro Daeng Abas. Ada gelas-gelas berisi beras dan juga Jakab yang berupa bendera kertas warna merah dan putih.
Tiga hari sebelumnya, kerbau yang hendak dijadikan korban dihias dan menyelipkan benang emas seberat 0,5 gram di antara kedua tanduk dan giginya. Oleh Sandro yang dikawal Pangalantik, dilakukan Ngeririk (menggeret) kerbau itu keliling kampung diikuti oleh tujuh bone-bone laki-laki dan tujuh bone perempuan di bawah umur sambil membawa Ula-Ula (kain warna khas putih Bajo, kuning Mandar, hitam Bugis, merah Makassar) diiringi tetabuhan Sarone. Menurut Daeng Abas, prosesi ini bertujuan untuk memohon kepada Allah agar dijauhkan dari mara bahaya dan penyakit. Di pantai, ratusan perahu penduduk sudah menunggu untuk mengiringinya dua sampan yang disatukan menjadi tumpangan iring-iringan kepala kerbau Ditiba. Gendang, gong dan seruling sebagai perlengkapan musik suku Bajo dimainkan. Irama magis tersebut selalu membuat beberapa orang warga yang mengikuti prosesi tersebut mengalami Kandongkoang (kesurupan). Tampak dua orang gadis menggerakkan telunjuk tangan bagaikan ada yang diikutinya. Mereka ini juga naik ke atas rakit yang membawa Tikolok itu.
— Selengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.01 No.01 —













